Bagian episode
1.1 Apakah Alam Semesta Selalu Ada?
4 mntFHD
1 dari 3Klip 1 dari 3Bagaimana Kita Bisa Sampai di Sini (Episode 1) · 3 bab
1.1 Apakah Alam Semesta Selalu Ada?
Film pendek ini bergulat dengan konsep filosofis: segala sesuatu yang ada pasti ada penyebabnya. Apakah penyebab itu?
PertanyaanPertanyaan terkait
PertanyaanmuAyat Alkitab
BagikanPsalm 19:1
For the choirmaster. A Psalm of David. The heavens declare the glory of God; the skies proclaim the work of His hands.
Berean Standard Bible
Public Domain
Baca selengkapnya...Transkrip
Indonesian (Yesus) (bahasa Indonesia)
Apa yang akan Saudara lakukan dengan hidup Saudara?
Namun bagi sebagian orang, jawabannya sepertinya begitu mudah.
Saya mau jadi dokter.
Saya mau jadi ahli biologi laut.
Saya mau jadi pilot.
Bagi saya, menjelaskan yang saya lakukan kerap menimbulkan reaksi menarik.
Saya bicara dengan orang tentang Tuhan dan iman.
Terkadang, saya menyukainya
karena itu membuka percakapan tentang apa yang kita yakini
di lain waktu, saya takut
karena saya takut dilabel fanatik atau “pendeta”.
Argumen yang dibuat untuk melawan keberadaan Tuhan ada di mana-mana.
Buku, situs web, dan banyak orang cukup lantang tentang itu.
Saya ingin menyajikan sisi lain cerita ini dan memulai percakapan jujur
tentang pertanyaan iman dan keyakinan yang kita gumuli.
Mari kita mulai dengan sebuah pertanyaan.
Bagaimana kita ada di sini?
Atau, bagaimana semua ini ada di sini?
Apakah seseorang atau sesuatu menciptakan semua ini atau tercipta dengan sendirinya?
Mungkinkah alam semesta sudah ada sejak dahulu
tanpa awal dan tanpa akhir?
Pertanyaan tersebut telah membingungkan para filsuf
dan menantang para ilmuwan selama ribuan tahun.
Contohnya Plato.
Ia salah satu pemikir berpengaruh dalam sejarah.
Ia berargumen jika Saudara melihat sesuatu bergerak, pasti ada sesuatu yang menggerakkannya.
Jika Saudara melacak setiap gerakan kembali ke masa lampau,
Saudara akan menemukan sumber semua gerakan.
Katakanlah Saudara di rumah melihat ke jendela
dan Saudara melihat sebuah bola terbang ke arah Saudara.
Apakah Saudara beranggapan bahwa bola itu memang selalu bergerak,
terus membal sana-sini di jagat raya?
Atau bahkan, ketika sebuah bola memecahkan jendela Saudara.
Akankah pikiran pertama Saudara, “Kurasa bola ini memang selalu bergerak.”
Tidak, itu akan terdengar aneh.
Tentu Saudara akan lebih memikirkan penyebab di balik apa yang terjadi.
Atau, Saudara menemukan sesuatu yang tak terduga di kamar Saudara.
Saudara takkan berpikir, “Aku tak pernah melihat ini sebelumnya.”
Saudara pasti berpikir, "Bagaimana ini ada di sini?”
Ingin tahu, itulah sifat manusiawi kita.
Pertanyaan “bagaimana” selalu diikuti dengan “siapa”.
Siapa yang menaruh ini di kamarku?
Siapa yang membobol jendelaku?
Mari kita pikirkan bola bergerak yang lebih besar, seperti planet kita.
Batu hijau dan biru indah ini bergerak melewati ruang angkasa 67.000 mil per jam,
berputar 1.000 mil per jam.
Ini pertanyaannya.
Apa atau siapa yang menggerakkannya?
Apa yang membuatnya tetap bergerak?
Alkitab diawali dengan dua kata ini, “Pada mulanya.”
Dua kata sederhana yang penuh makna.
Pernyataan bahwa alam semesta memiliki awal mula.
Apakah ini selaras dengan penemuan ilmuwan
tentang asal mula alam semesta?
Awal 1900-an, Edwin Hubble, yang terkenal dengan teleskop,
berkontribusi besar pada teori ilmiah tentang alam semesta yang terus berkembang.
Hubble berargumen alam semesta bukan hanya terus berkembang,
tetapi muncul dan terwujud dari satu titik tertentu di masa lampau.
Ilmuwan tadinya berasumsi bahwa alam semesta selalu ada.
Ilmuwan seperti Hubble menunjukkan
bahwa alam semesta memiliki kejadian permulaan atau titik awal.
Poin saya, jika alam semesta memiliki awal,
wajar jika berpikir bahwa ada sesuatu yang menyebabkannya
dan bahwa daya penciptaan yang hebat ini pasti melampaui alam semesta itu sendiri.
Bagi saya, tampaknya ilmu dan iman
mengakui kemungkinan daya penciptaan yang hebat ini.
Jika ini kuasa Tuhan, ini mungkin menjelaskan mengapa kita ada di sini
dan bagaimana kita bisa melakukan percakapan ini.