Bagian episode
7.2 Apakah Saya Lebih Baik Tanpa Gereja?
4 mntFHD
Bagaimana dengan Gereja? (Episode 7)·2 dari 3Klip 2 dari 3
7.2 Apakah Saya Lebih Baik Tanpa Gereja?
Orang-orang telah melakukan hal-hal yang mengerikan baik di dalam maupun di luar gereja, sehingga perlu dipertimbangkan bahwa semua orang membutuhkan pertolongan untuk kecenderungan dosa mereka.
PertanyaanPertanyaan terkait
PertanyaanmuAyat Alkitab
BagikanJohn 13:35
By this everyone will know that you are My disciples, if you love one another.”
Berean Standard Bible
Public Domain
Baca selengkapnya...Transkrip
Indonesian (Yesus) (bahasa Indonesia)
Berulang kali saya ditanya bagaimana saya bisa percaya kepada Tuhan
padahal begitu banyak perang yang disebabkan oleh agama.
Bahkan orang berkata jika orang beriman
mau meninggalkan keyakinan mereka akan keberadaan Tuhan,
dunia ini akan menjadi tempat yang lebih baik, lebih aman.
Kebenarannya, sudah ada bukti yang menunjukkan
bahwa mengeluarkan Tuhan dari gambaran itu
belum tentu menyelesaikan masalah perdamaian dunia.
Abad 20 dikatakan sebagai abad paling berdarah di antara segala abad.
Ada lebih banyak pembunuhan di abad itu dibanding gabungan 19 abad sebelumnya.
Di abad 20, ada kebangkitan rezim Cina,
Kamboja, dan Rusia.
Pemerintahan ini menciptakan masyarakat yang tidak beragama atau percaya Tuhan,
tetapi mereka tetap bersalah menciptakan kekejaman besar
dan kematian terhadap rakyatnya sendiri.
Jadi, menurut saya, tidak adil jika kita menyalahkan agama
sebagai penyebab setiap perang yang pernah terjadi,
tetapi jika kita melihat Kekristenan secara khusus
dan hal-hal keji yang dilakukan dalam nama Yesus,
sungguh ini kenyataan yang mengejutkan, dan tak dapat dibenarkan.
Gandhi, aktivis non-kekerasan India,
yang memperjuangkan kemerdekaan India dari Inggris, pernah berkata
"Saya menyukai Kristus, tetapi bukan orang Kristen,
karena orang Kristen sangat tidak mirip dengan Kristus."
Kritik Gandhi terhadap Kekristenan
bicara terhadap bagian tergelap sejarah Kekristenan.
Ia bicara terhadap mereka yang mengaku orang Kristen,
tetapi bersalah melakukan kekejian itu.
Saya membayangkan jalan pikiran Gandhi.
Bagaimana mungkin pesan Yesus tentang menjaga perdamaian,
mengasihi musuhmu, dan berbuat baik pada orang yang berbuat jahat padamu,
dapat membenarkan perang dan kematian?
Coba bayangkan pertumpahan darah selama Perang Salib,
yang adalah serangkaian perang selama Abad Pertengahan
antara orang Kristen Eropa dan Muslim.
Kedua pihak bersalah atas kebiadaban
yang mereka katakan dilakukan atas nama agama mereka.
Saya membayangkan bagaimana Yesus akan menanggapi
korban tewas ratusan ribu orang.
Ada lagi fakta menyedihkan bahwa banyak orang Kristen memakai Alkitab
sebagai dasar untuk perbudakan,
yang lain memakai Alkitab untuk membenarkan rasisme.
Ini mengerikan.
Lalu, ada orang dalam kepemimpinan Kristen
yang bersalah melakukan penganiayaan seksual dan fisik,
dan ada yang bekerja keras mencoba menutupinya.
Bagaimana mungkin orang membiarkan ini terjadi?
Meski Kekristenan dan mereka yang mengaku
orang Kristen telah melakukan hal yang salah,
dan gagal melakukan hal yang benar,
yang ingin saya tekankan adalah masalahnya terletak pada orang.
Oranglah yang mengecewakan kita,
oranglah yang berbuat kesalahan, bukan Yesus.
Karena Yesuslah yang menentukan Kekristenan, bukan orang.
Yesuslah yang menyatakan Tuhan seperti apa,
dan Yesuslah yang menjadi contoh untuk hidup mengasihi.
Mereka yang dibenci masyarakat, Yesus mengasihinya.
Mereka yang ingin dibunuh masyarakat, Yesus ampuni.
Dan mereka yang dianggap masyarakat menjijikkan,
Yesus rangkul dan sembuhkan.
Jangan pernah lupa bahwa Yesus pun korban ketidakadilan,
dan Dia meminta pengampunan atas musuh-Nya ketika tergantung di salib.
Ada orang yang berbuat kesalahan,
dan mereka mencoba membenarkannya dengan klaim “dilakukan dalam nama Yesus”.
Namun, ini sangat jauh dari yang pernah Yesus ajarkan.
Keserakahan kitalah, keinginan kita akan kuasa yang membuat kita membenci,
menyerang, memperbudak, dan menimbulkan penderitaan, bukannya menawarkan kasih.
Ini tragis karena ini sama sekali berlawanan
dengan yang Yesus katakan tentang bagaimana seharusnya kita dikenal orang.
“Semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku,
yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”