Bagian episode
8.2 Berapa Harga Diri Saya?
5 mntFHD
Apa Hubungannya Yesus dengan Saya (Episode 8)·2 dari 3Klip 2 dari 3
8.2 Berapa Harga Diri Saya?
Yesus datang ke dunia untuk menunjukkan kepada kita kehidupan yang rendah hati, penuh kasih, dan kepedulian terhadap dunia.
PertanyaanPertanyaan terkait
PertanyaanmuAyat Alkitab
BagikanJohn 1:14
The Word became flesh and made His dwelling among us. We have seen His glory, the glory of the one and only Son from the Father, full of grace and truth.
Berean Standard Bible
Public Domain
Baca selengkapnya...Transkrip
Indonesian (Yesus) (bahasa Indonesia)
Masuknya Yesus ke dalam sejarah manusia membuat segala sesuatu menarik.
Tuhan yang dibalut kulit.
Injil Yohanes menjelaskan kedatangan Yesus ke dalam dunia seperti ini:
Tuhan menjadi manusia dan diam di antara kita.
Yesus datang ke dalam lingkungan kita.
Tuhan tidak meneriakkan pesan-Nya dari surga.
Sebaliknya, Dia menjadi seperti salah satu dari kita.
Jika Tuhan egois dan merasa tak aman,
Dia akan datang dalam pusaran cahaya,
pujian para penggemar, dan musik latar yang akbar.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Dan ini menjadi pola untuk seluruh hidup-Nya, apa yang Dia katakan dan lakukan.
Dia tidak terlahir dalam istana.
Dia terlahir dalam kandang di sini, di Bethlehem.
Dia tidak terlahir dalam keluarga yang mapan.
Sebaliknya, keluarganya berada dalam pelarian dari penganiayaan Raja Herodes.
Yesus melewatkan banyak masa kecil-Nya di sini, di Mesir
sekitar tiga setengah tahun dalam ruang bawah tanah seperti ini, di samping sumur.
Kita kerap lupa bahwa Yesus pernah menjadi pencari suaka yang hidup di negeri asing
yang keluarganya takut mengalami penganiayaan jika pulang ke rumah.
Melalui empat Injil, kita tahu banyak tentang kelahiran-Nya
lalu tentang pelayanan-Nya setelah Dia berusia 30 tahun.
Saya sangat penasaran dengan tahun-tahun di antaranya.
Bagaimana rasanya bagi Yesus
bertumbuh di Nazaret, di jalanan seperti ini?
Bagaimana Dia waktu remaja?
Apakah Dia pernah ditindas karena selalu ikut aturan?
Apakah Dia pernah takut kegelapan?
Apakah Dia pernah jatuh hati?
Apakah ada yang pernah naksir kepada-Nya?
Bisa menyenangkan berspekulasi tentang hal-hal yang tidak kita ketahui.
Namun, bagi saya, dari yang bisa kita ketahui, yang terpenting adalah ini:
Tuhan menjadi manusia untuk menghidupi hidup yang
takkan bisa kita hidupi, dan untuk mati dalam kematian
yang takkan perlu kita hadapi.
Dan, inilah yang terutama.
Jika Yesus hanya dalam misi penyelamatan,
Dia bisa datang ke bumi kapan saja sebagai orang dewasa
dan memberikan hidup-Nya bagi kita.
Namun, kita memiliki 33 tahun Tuhan ada di bumi.
Selama 33 tahun itu, Tuhan membangun hubungan dengan manusia,
menunjukkan penerimaan pada yang terbuang,
menunjukkan kasih bahkan pada musuh-Nya,
dan membawa kesembuhan bagi mereka yang bahkan lupa mengucapkan terima kasih.
Yesus menunjukkan seperti apa Tuhan sebenarnya.
Saya pernah bicara tentang ular itu,
ular yang dapat bicara dan mengecoh pikiran Adam dan Hawa.
Ini menunjukkan bagaimana kita dapat ditipu
sehingga meragukan kebaikan Tuhan atau meragukan bahwa Tuhan dapat dipercaya.
Saya memandang cerita Injil sebagai 33 tahun Yesus membuktikan
betapa dapat dipercayanya Dia,
mulai dari kedatangan-Nya yang sederhana hingga kematian-Nya yang kejam.
Dia mengalami semua yang kita alami,
rasa sakit yang kita rasakan, kesukaran dan pencobaan yang kita lewati.
Dia melalui semua itu, dan Dia tidak berbuat dosa.
Dia mengalami pencobaan dan pergumulan kita.
Dia benar-benar berjalan dalam sepatu kita.
Bagi saya, Dia lebih dari sekadar teman yang baik.
Dia lebih dari sekadar guru yang baik
Dia Juru Selamat saya, dan Dia melakukannya dengan kerelaan.
Semua yang terjadi pada hari-hari sebelum Dia disalibkan
begitu penting dan begitu nyata.
Dengan sukarela, Dia pergi ke Yerusalem meski tahu bahwa Dia menuju kematian-Nya.
Pada malam sebelum Yesus disalibkan,
Dia pergi ke Taman Getsemani untuk berdoa untuk rasa takut-Nya dan apa yang akan terjadi.
Di bawah pohon seperti ini
dengan latar kota di belakangnya,
Dia berlutut dan berseru kepada Bapa-Nya yang di surga.
Dia berseru kepada Bapa-Nya hingga Dia, secara harfiah, berpeluh darah
karena kecemasan yang dialami-Nya.
Untuk apa Yesus berseru
jika ada cara lain untuk menawarkan pengampunan dosa,
cara lain untuk mengingatkan manusia siapa mereka,
cara lain untuk membawa kesembuhan bagi orang yang hancur,
mari lakukan itu saja.
Kita takkan pernah tahu sepenuhnya apa yang telah Yesus lalui demi kita.
Sementara konsep agama lain tampaknya berfokus pada cara meraih Tuhan dan membuat Tuhan tetap senang,
cerita Alkitab, cerita Yesus,
adalah tentang perjalanan panjang yang bersedia Tuhan tempuh
untuk menjangkau kita.